Mengenai Saya

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.
[5] [recent] [slider-top-big] [Slider Top]
[15] [true] [slider-top] [Slider Top]
You are here: Home / Tim Indonesia Salurkan Bantuan Pengungsi Afrika

Tim Indonesia Salurkan Bantuan Pengungsi Afrika

| Tidak ada komentar



Anak-anak, menderita kekurangan gizi, dan ibu mereka berbagi tempat tidur di sebuah rumah sakit pediatri di Bangui, Republik Afrika Tengah (25/2). REUTERS/Camille Lepage

TEMPO.CO, Jakarta - Tim Kemanusiaan Indonesia Aid Dompet Dhuafa untuk Afrika Tengah telah berada di kamp pengungsian di Kenzu dan Garoua Boulai, perbatasan timur Kamerun dan Afrika tengah.

Di sana tim menyalurkan bantuan masyarakat Indonesia berupa logistik untuk sekitar 27 ribu kepala keluarga pengungsi Afrika Tengah. Untuk bantuan krisis tersebut, anggaran dana Rp 1 miliar.

Koordinator Tim Kemanusiaan Indonesia Aid Dompet Dhuafa Sabeth Abilawa mengatakan tim bersama NGO kemanusiaan lokal setempat, AHAS Association Humanitaire Pour le Development du Cameroon, telah menyalurkan dua kontainer logistik berupa makanan, air mineral, dan obat-obatan yang dibeli dari Kota Doula yang berjarak dekat dari Kenzu untuk dibagikan kepada seluruh pengungsi.

"Mereka sangat membutuhkan bantuan makanan, kesehatan, air bersih, karena secara umum daerah di sini sangat kesulitan air," kata Sabeth melalui pesan elektronik. Dengan pemberian bantuan tersebut, tim ini merupakan lembaga kemanusiaan Indonesia yang pertama kali memberikan bantuan kepada para pengungsi Afrika Tengah.

Informasi terbaru, Rabu, 26 Maret 2014, Sabeth mengatakan gelombang pengungsi yang datang ke wilayah Kenzu semakin bertambah. "Diperkirakan jumlah pengungsi di wilayah ini akan bertambah karena ada dua truk yang membawa ratusan pengungsi datang ke sini," katanya. (Baca: Dompet Dhuafa Bawa Tim Bantuan ke Afrika Tengah)

Hingga empat hari ke depan, tim ini akan membuat instalasi air dan melakukan survei di beberapa titik wilayah untuk membantu pengadaan air bersih di Kenzu. "Hari ini kita akan survei titik-titik air atau waterpam untuk membangun dua atau tiga instalasi air bersih," katanya. Ia mengatakank kondisi pengungsi di kamp Kenzu menyedihkan. Wilayah Kenzu hanya dipenuhi tenda-tenda pengungsi warna putih karena banyaknya jumlah pengungsi.

Hampir 95 persen pengungsi tinggal di tenda-tenda pengungsian, sementara sisanya yang baru datang tinggal di lapangan tanpa tenda. Makan mereka dijatah. Menurut Sabeth, mayoritas pengungsi adalah perempuan dan anak-anak. Tubuh mereka kurus tak terurus. "Wajah-wajah kelelahan dan tatapan nanar menghiasi raut wajah orang yang terusir dari negerinya," katanya.