Mengenai Saya

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.
[5] [recent] [slider-top-big] [Slider Top]
[15] [true] [slider-top] [Slider Top]
You are here: Home / Jika Muhammadiyah Mengizinkan, Din Syamsuddin Siap Dicapreskan

Jika Muhammadiyah Mengizinkan, Din Syamsuddin Siap Dicapreskan

| Tidak ada komentar




Bisnis.com, TEMANGGUNG - Hampir semua calon presiden melakukan silaturrahmi ke Pengurus Pusat Muhammadiyah. Diantara beberapa capres yang berkembang saat ini, tiga capres telah menemui PP Muhammadiyah yakni Aburizal Bakrie, Joko Widodo, Prabowo Subianto.

Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengungkapkan hal itu mengomentari kesiapan dirinya jika ada partai politik yang hendak melamarnya baik menjadi calon presiden maupun calon wakil presiden.

" Soal pilpres masih ada waktu, tunggu setelah pileg. Belum ada permintaan yang definitif. Kalau isyarat-isyarat ada, tetapi politik tidak bisa dipegang, karena hampir semua capres datang ke PP Muhammadiyah, seperti Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto dan Joko Widodo," katanya di Temanggung, Jawa Tengah, Ahad (30/3/2014).

Dia menegaskan jika ada parpol yang melamarnya dan Muhammadiyah menyetujui, dirinya siap dicalonkan menjadi presiden.

"Kalau saya ditanya apakah mau dicalonkan, tidak mungkin kalau tidak mau. Soal kemampuan kemungkinan lebih berat memimpin ormas karena tidak ada dana. Kalau negara banyak anggaran dan banyak aparat," tuturnya di depan ribuan warga Muhammadiyah saat acara Hari Bermuhammadiyah.

Din mengaku, dari sejumlah tokoh parpol yang datang ke kantor PP Muhammadiyah tidak ada permintaan definitif. Bahasanya isyarat dan tidak boleh ditelan mentah-mentah. Tampaknya manuver politik baru akan kelihatan setelah pemilu anggota legislatif.

Menurutnya, sebagai kekuatan ormas tertua di republik ini Muhammadiyah perlu mengembangkan silaturahmi nasional dengan siapa saja, baik lintas agama maupun politik, tetapi itu jangan kemudian harus dibaca sebagai ajakan.

"Anggaplah silaturahim, Muhammadiyah antenenya bukan politik kekuasaan, kami menyadari berdasarkan undang-undang pencalonan presiden menjadi kewenangan partai politik," katanya.

Dia mengemukakan kalau ada parpol minta Muhammadiyah untuk maju RI 1 atau RI 2 banyak kader atau tokoh Muhammadiyah yang berkualitas bisa sampai sepuluh orang. Kalau mereka fungsionaris pemangku amanat di Muhammadiyah sesuai etika berorganisasi harus minta izin pada organisasi ini.

Ia menyebutkan, tokoh-tokoh tersebut adalah mantan menteri a.l. Malik Fajar, Bambang Sudibyo, Yahya Muhaimin.

"Kalau saya tentu saja tidak boleh menilai diri sendiri. Kata orang cukup memenuhi standar, apalagi saya sudah presiden Muhammadiyah. Presiden tokoh agama se Asia dan juga presiden tokoh agama sedunia".

Secara pribadi, katanya, sudah berpengalaman malang melintang memimpin organisasi mengapa tidak punya keinginan, sedangkan orang-orang yang tidak punya rekam jejak saja berani, mungkin karena merasa punya uang dan punya perusahaan.

"Saya kira kalau ketua umum ormas itu diminta pasti mau dan saya yakin juga mampu, cuma yang berhak mengajukan itu parpol. Oleh karena itu tidak harus dalam posisi agresif atau proaktif menawarkan diri, apalagi tokoh Muhammadiyah, mungkin kalau tokoh lain bisa aktif progresif, tetapi kalau Muhammadiyah antenenya dakwah, tetapi kalau ada yang minta harus dibicarakan di organisasi bukan pribadi," katanya.(ant/yus)



Source : Newswire


Editor : Yusran Yunus