Mengenai Saya

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.
[5] [recent] [slider-top-big] [Slider Top]
[15] [true] [slider-top] [Slider Top]
You are here: Home / Fisi Nuklir

Fisi Nuklir

| Tidak ada komentar
Jika memerintah dengan cemeti
Ditambah dengan perkataan mesti
Orang menerimanya sakit hati
Barangkali datang fikir hendak mati

(Raja Ali Haji)


Dalam fisika nuklir dan kimia nuklir, fisi nuklir adalah reaksi nuklir saat nukleus atom terbagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (nuklei yang lebih ringan), yang seringkali menghasilkan foton dan neutron bebas (dalam bentuk sinar gamma), dan melepaskan energi yang sangat besar. Dua nuklei yang dihasilkan biasanya ukurannya sebanding, dengan rasio massa sekitar 3:2 untuk isotop fisil. Fisi yang biasanya terjadi adalah fisi biner, namun kadang-kadang (2 hingga 4 kali per 1000 peristiwa), tiga pecahan bermuatan positif dihasilkan dalam fisi ternari. Bagian terkecil dari ketiga nuklei ini ukurannya bervariasi antara sebesar proton hingga nukleus argon.

Dengan Satu kali usikan terhadap atom akan mengakibatkan reaksi berantai yang tak terhingga sehingga timbullah ide untuk membuat Bom Atom.Bom Atom adalah peristiwa alam, peristiwa perubahan atom menjadi energi yang sangat besar karena satu usikan saja.

Fisi Nuklir juga bisa terjadi terhadap manusia. Suatu saat kita bersalah dengan teman, sebagai seorang muslim yang baik tentu akan cepat menyelesaikannya dengan meminta maaf dan menyelesaikan hak adami lainnya.
Tapi, semua sudah terlanjur terjadi. Bisa jadi sebelum kita selesaikan masalah tersebut, sahabat kita bercerita ke istrinya, istrinya cerita ke anaknya, anaknya cerita ketemannya, temannya cerita keorang tuanya, orang tuanya cerita ke teman kerjanya dan seterusnya dan seterusnya. Keburukan dan kebaikan yang kita tebar memiliki reaksi Fisi Nuklir yang tak terhingga dan tak berujung akibatnya. Siapa Menabur angin akan menuai badai, siapa menabur benih akan menuai Padi.

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula
.(QS Al Zalzalah:7-8)



Suatu ketika Rasulullah Muhammad Shalallahu Alayhi Wassalam kedatangan tamu seorang 'ibnu sabil' yang telah kehabisan bekal. karena di rumah beliau tidak ada sesuatu yang layak diberikan, maka beliau minta tolong sahabat Bilal agar mengantar tamu itu kerumah Fatimah Azzara Binti Muhammad putrinya tercinta.

Dirumah Fatimah, rupanya juga tidak ada sesuatu yang layak dimakan. maka dengan senang hati, tulus dan ikhlas, Fatimah memberinya kalung hadiah pernikahannya dengan Ali. "Ambillah kalung ini dan juallah, mudah-mudahan harganya cukup untuk memenuhi keperluanmu" kata Fatimah.

Oleh si tamu, kalung itu dijual ke Ammar bin Yasir, salah seorang sahabat Nabi. "Berapa hendak kamu jual kalung itu?" tanya Ammar bin yasir. "aku akan menjualnya dengan roti dan daging sekadar untuk mengenyangkan perutku, sebuah baju penutup tubuhku, dan uang satu dinar untuk menemui istriku" kata si tamu.

Ammar berkata, "Baiklah, aku membeli kalung itu dengan harga 20 dinar, ditambah 200 dirham, ditambah sebuah baju, serta seekor unta agar engkau dapat menemui istrimu".

Setelah itu Ammar berkata pada budaknya, Asham. "Wahai Asham, pergilah sekarang menghadap Rasulullah. katakan bahwa aku menghadiahkan kalung ini dan juga engkau kepadanya. jadi mulai hari ini kamu bukan budakku lagi tetap
budak Rasulullah".

Ternyata, Rasulullah pun berbuat sebagaimana Ammar. Ia menghadiahkan kalung itu dan juga Asham kepada Fatimah.

Fatimah sangat bahagia menerima hadiah dari ayahandanya, sekalipun dia tahu bahwa kalung ini semula memang miliknya. Dia sadar, ternyata kebaikannya yang hanya sekedar memberi kalung mendapat balasan berlebih dari ALLAH Subhanahu Wa Ta'alla, yaitu dengan ditambah seorang budak.

Lalu Fatimah berkata kepada Asham, "Wahai Asham, engkau sekarang bebas dari perbudakan dan menjadi manusia merdeka, aku melakukan semua ini karena ALLAH. Subhanahu Wa Ta'alla semata.

Mendengar perkataan Fatimah, Asham tertawa. Fatimah pun menjadi heran dan bertanya; " Wahai Asham, mengapa engkau tertawa seperti itu?"

"Aku tertawa karena kagum dan takjub akan berkah kalung itu. Ia telah mengenyangkan orang yang lapar, Ia telah menutup tubuh orang yang telanjang, Ia telah memenuhi hajat seorang yang fakir dan akhirnya ia telah membebaskan seorang budak", jawab Asham.


Sumber: