Alangkah indahnya jika suatu saat, dipagi hari sebelum kita berangkat melakukan aktifitas sambil sarapan mendengar karya indah Khalil Gibran di Televisi atau ulasan pendek EMHA, atau karya sastra dan budaya yang berakhlak mulia lainnya. Atau Ulasan kitab suci yang menyejukkan bukan pembenaran atas suatu sikap kebencian terhadap yang lain, bukannya berita kecelakaan, pembunuhan, perampokan, sidang cerai artis dan berita keburukan lainnya.
Cukup lima menit saja kita dengarkan, kita lihat, kita rasakan berita, informasi, ulasan atau opini yang menumbuhkan efek positif, yang menghadirkan kehangatan, keceriaan.
Anak meminta uang dua puluh ribu tidak dikabulkan, orang tua dibunuh. Sudah separah itukah sakitnya dunia yang kita tempati? Apa yang salah? Orang Tua, Guru, Televisi, Internet? Ataukah memang ini adalah salah satu tanda akhir dunia?
Yang pernah ikut pelatihan jurnalis tentu mengenal istilah, Anjing menggigit orang bukan berita, orang menggigit anjing adalah berita. Haruskah berita seperti itu? yang pada kenyataannya hanya menghadirkan sensansi agar oplah atau rating tinggi tanpa memikirkan dampak negatifnya bagi penikmat berita.
Sejak kecil tentu kita tahu bahwa ada kewajiban menyampaikan berita kebaikan walau ayyah, walaupun cuma satu ayat. Misalkan lingkungan kita, TV kita, Internet kita, atau koran kita tidak memungkinan untuk mendapatkan berita yang berakhlak mulia, bisa kita mulai dari diri kita dengan satu ayat, cukup menebar senyuman, tangan terkepal tidak akan mampu berjabat tangan, sudah saatnya tangan kita terbuka untuk sesama.
Mudah-mudahan catatan sederhana ini bermanfaat. [red-beritaMU]
