Do’a ibu dan ayah, serta peran isteri sangat menentukan kesuksesan. Jangan lupakan dan sakiti hati mereka. Mereka adalah orang-orang hebat yang berada di balik kesuksesan seseorang.
Itulah salah satu kiat sukses Sukamta, mantan buruh kuli konveksi di Jakarta beberapa tahun silam. Lahir dari keluarga miskin di Dusun Jambon Kelurahan Bogem Kecamatan Bayat Klaten 2 Mei 1970, Sukamta sejak kecil bertekad bersekolah yang tinggi, untuk melepaskan diri dari kemiskinan. “Dulu, makan saja kami susah. Kami kenyang miskin. Tapi, kemiskinan bukan halangan untuk meraih hak menjadi orang sukses,” ujar Sukamta.
Untuk meraih sukses, Sukamta setelah menamatkan sekolah lanjutan atas dan mendaftar serta tes di ATMI Solo dan UGM, kemudian ia berfikir untuk mencari uang sebagai persiapan nanti kalau diterima kuliah, ia bertekad hijrah ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.
“Memang sudah menjadi kebiasaan saya setiap ada waktu luang (libur sekolah), saya selalu mencari kesibukan untuk bekerja yang menghasilkan uang, yang bisa untuk bantu-bantu bayar sekolah atau minimal untuk uang saku sendiri. Sejak SD sudah biasa buruh cetak batu bata, dan jualan es keliling “ithing-ithing”. Buruh cetak batu bata saya jalani sampai SMP,” ujarnya kepada INSPIRASI.
Ketika SMA, Sukamta pernah juga jadi buruh nunggu sepeda di penitipan sepeda di tempat wisata “Curuk” Tegalrejo Ngawen, Gunung Kidul, tiap hari minggu. Makanya, sering lihat tetangga banyak merantau ke Jakarta, dan saat Hari Raya pada pulang dan kelihatan bajunya bagus-bagus, pegang uang cukup, bisa beli sepeda jengki yang bagus, lalu dalam pikiran Sukamta, kontan ingin cari uang ke Jakarta. “Orang lain bisa, kenapa saya tidak? Saya pasti juga bisa!” kenangnya kala itu.
Sesampainya di Jakarta, ternyata tidak seindah bayangannya, mudah cari kerjaan dan uang bisa mengalir begitu saja. Dengan hanya bekal alamat kakaknya, Sukamta tiba di Jakarta, lalu kakaknya memasukkan kerja di sebuah perusahaan konveksi. “Kerjaannya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Jadi kuli panggul yang bertugas mengangkat kain untuk dipotong dari lantai 1 ke lantai 3. Walau berat, pekerjaan itu tetap saya jalani, dengan upah Rp. 10.000/ minggu. Selain jadi kuli, saya juga bertugas memegangi kain yang akan dipotong,” ceritanya.
Pengalaman jadi kuli konveksi di Jakarta, Sukamta juga pernah apes, ditipu mentah-mentah, dan gaji beberapa minggu amblas. Setelah gajian, bapak empat orang anak ini berniat dolan ke kakak sepupunya di Pulogadung. Di jalan ia jumpa dan diajak berkenalan dengan seseorang yang mengaku berasal dari Klaten. Merasa berjumpa dengan orang satu daerah, Sukamta percaya. Setelah tanya ini-itu, orang itu lantas menawarinya kerja dengan gaji Rp.30.000/minggu.
Merasa gaji yang ditawarkan 3 kali lipat dari gajinya jadi kuli panggul, ia langsung tertarik. Tanpa pikir panjang Sukamta mau saja disuruh bikin lamaran saat itu juga. “Orang itu makan, saya bikin lamaran, dan dimintai uang sebagai syarat. Seluruh gaji hasil kerja beberapa minggu sebagai kuli, saya serahkan. Saya di suruh menunggu, setelah menunggu beberapa saat, saya langsung tersadar, bahwa saya telah tertipu. Gaji beberapa minggu bablas sudah…” ungkapnya.
Pengalaman pahit menjadi kuli konveksi rupanya sangat berharga bagi Sukamta. “Pengalaman hidup susah jadi buruh, ternyata terasa manfaatnya sekarang,” tambah Sukamta yang saat ini memiliki Pabrik Konveksi dengan bendera CV Hapuma di kampung kelahirannya Bogem Klaten ini.
Kini Sukamta adalah mantan buruh pabrik yang menempuh perjuangan berliku, telah meraih gelar doktor. Dengan kajian penelitian penyumbatan pada pipa atau yang dikenal dengan istilah slugging sangatlah berbahaya. Apalagi ketika pipa tersebut dialiri oleh zat-zat berbahaya seperti nuklir. Maka, untuk mengantisipasi penyumbatan tersebut meledak diperlukan sistem peringatan dini mengenai batas maksimum pipa tersebut menampung aliran.
Hal inilah menjadi penelitian Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Sukamta hingga akhirnya meraih gelar doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dalam disertasi yang berjudul “Studi Fenomena Slugging Sebagai Inisiasi Water Hammer Pada Proses Kondensasi Uap di Dalam Pipa Horisontal” Sukamta pun mengurangi penyebab slugging dan cara mengantisipasinya.
Dengan tekad selama bekerja jadi buruh pabrik, Sukamta membuktikan bahwa dirinya mampu dan ingin sukses, yang dipikirannya adalah sekolah tidak pernah padam. Keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk gagal meraih hak sebagai orang sukses. Impiannya ingin menjadi kaya tidak pernah padam, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah nasib dan keluarga. “Saya sudah kenyang dengan kemiskinan dan ejekan”.
Saat disinggung kiat suksesnya kini, Sukamta mengungkapkan, harus selalau berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, agar hidup tidak tersesat, sesuai sabda Rasul yang telah mewariskan keduanya, sebagai petunjuk yang paling benar dan tidak menyesatkan. Kemudian, memulai sama pentingnya dengan mengakhiri. Mulailah dan akhiri dengan kebaikan. Jangan pernah takut pada bayangan kesusahan atau resiko yang akan menghadang. Mulai dan jalani saja dulu. Sungguh, di balik kesusahan ada kemudahan.
“Inna Ma’al ‘Usri Yusron begitu yang dijaminkan Allah dalam Al-Qur’an. Susah itu tidak akan lama. Tidak usah takut walau kelihatan akan susah. Lakoni wae, ora usah wedi. Man jadda wajada, siapa yang sunguh-sungguh akan mendapatkan,” jelasnya.
Tambahnya lagi, Shalahuddin Al-Ayyubi pernah berpesan bahwa jika seseorang ingin naik derajat maka ia akan diuji. Jadi untuk naik kelas, jangan takut dengan ujian. Kalau ada orang yang mengejek, bahkan mencaci maki atau memfitnah, maka anggap saja sebagai ujian yang akan menaikkan kelas dan derajat kita. Buktikan saja bahwa kita tidak seperti yang mereka kira. Jika kita ingin menjadi lebih arif dan bijaksana, maka Allah akan kirim problem atau masalah pada kita. Jadi, tak ada masalah dengan masalah.
Jadilah seperti Bumi dan Matahari. Bumi setiap hari dikencingi dan dikotori. Tapi bumi tetap mampu memberi air yang bersih dan suci untuk mereka yang selalu mengotorinya. Matahari setiap hari menyinari tanpa bertanya dulu apakah yang disinari berterimakasih atau tidak. Itulah filosofi memberi, tak berharap kembali, bahkan sekedar ucapan terimakasih. Hanya ridho Allah ta’ala yang dinanti. Jangan katakan tidak ada jika seseorang membutuhkan bantuan, nanti akan sungguh-sungguh jadi tidak ada. Kalau tidak ingin membantu, sampaikan saja permintaan maaf dan katakan ada tetapi sudah dialokasikan untuk keperluan lain.
Kini Sukamta menjabat staf pengajar di Program Studi Teknik Mesin dengan bidang keahlian Konversi Energi, Mechanical and Piping System ini menyelesaikan studi S-1, S-2 dan S-3 di Universitas Gadjah Mada. Gelar Sarjana Teknik (S.T.) diperoleh pada tahun 1995, Megister Teknik (M.T.) pada tahun 2000 dan Doktor (Dr.) pada tahun 2012. Gelar Profesi Insinyur (Ir.) diperoleh dari Persatuan Insinyur Indonesia pada tahun 2008. Memperoleh Sertifikasi sebagai Ahli Madya Perencana Teknik Mesin dari Asosiasi Tenaga Ahli Konstruksi Indonesia (ATAKI) pada tahun 2010, Sertifikasi sebagai Auditor Quality Management System ISO 9001 pada tahun 2011 dari International Register of Certified auditor (IRCA) melalui TÜV Rheinland Indonesia, dan Sertifikasi Pendidik sebagai Dosen Profesional pada tahun 2011, konsultan sistem manajemen ISO 9001 dan Konsultan Mechanical and Piping System (CV RAHMA GROUPS) dan Usaha Konveksi (CV HAPUMA). Ysd
