Mengenai Saya

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.
[5] [recent] [slider-top-big] [Slider Top]
[15] [true] [slider-top] [Slider Top]
You are here: Home / Lepas Status Putra Mahkota Demi Karir Perwira

Lepas Status Putra Mahkota Demi Karir Perwira

| Tidak ada komentar


PEMANDANGAN di tengah deretan bangku undangan pelantikan calon perwira remaja Akademi TNI-Akademi Kepolisian (Akpol) di lapangan Banda, komplek Akademi Angkatan Laut (AAL) terlihat biasa. Di antara sector A3-A4 barat gedung markas komando AAL, seorang pria khas Indonesia timur duduk mangenakan ikat kepala khas tarian perang menyerupai udeng di kepalanya.

Di bagian bawah ikat kepala, sebuah ornament mengelilingi kepala melewati pelipis dan atas telinga dilengkapi bulu putih burung kakak tua. Kelopak matanya cekung dan jambangnya ditumbuhi rambut. Warna kulit hitam dan rambut keriting semakin menguatkan identitas bahwa yang bersangkutan etnis Papua. Apalagi dia mengenakan batik warna merah muda dengan hiasan motif ikon provinsi itu, burung cendrawasih.

“Perkenalkan, beliau kepala Suku Dani yang bermukim di Desa Anemoyogi. Kecamatan Kurulu, Jayawijaya, Namanya Yali Mabel,” ungkap Bekto Suprapto mantan Kapolda Sulawesi Utara dan Kapolda Papua yang berada disampingnya. “Mohon Maaf kalau bahasa Indonesianya kurang lancar,” lanjut Bekto yang bertindak sebagai wali taruna Akpol Albertus Mabel, putra Yali Mabel.

Yali sengaja didatangkkan ke Surabaya untuk menyaksikan pelantikan Albertus, 22, sebagai sebagai perwira polisi. Bekto mengungkapkan, Albertus yang lulus pendidikan Akpol Semarang 2013 tegabung dalam prekrutan Affirmative action. Yakni program khusus perekrutan taruna untuk daerah-daerah tertentu untuk kepentingan integrasi Bangsa. Selama ini program itu mewadahi calon taruna dari berbagai etnis yang tersebar.

Albertus lolos seleksi bersama tiga taruna dan seorang taruni asal Papua. Yakni Noach Hendris, Agustinus Pigay, Henry Korwa, dan taruni Indah Fitria Dewi. Mereka mengungguli 254 peserta lain ketika tes di Polda Papua hingga ke Akpol Semarang. Pada angkatan yang sama dia tergabung bersama tiga Lulusan Akademi TNI. Rincinya, Kadet Sersan Mayor Satu Taruna (Sermatutar) Rahma Soleh Yoku. Sematutar, Sena Adji Putra dan seorang taruna Akmil Angkatan Darat Oetrus Nasatekay.

Program untuk Akpol berlangsung tiga tahun sedangkan Skmil dan AAL selama 4 tahun. Dari 8 taruna asal Papua ini, Albertus menjadi sosok menarik lantaran statusnya sebagai anak Kepala Suku Dani. Sebagai suku yang masih menjaga tradisi turun-temurun, Albertus sebenarnya diproyeksikan Yali melanjutkan tahtanya sebagai kepala suku.

“Tradisi Mereka berusaha mempertahankan etnis, karena Albertus dianggap yang terkuat diantara saudara-saudaranya,” terang Bekto. Hal itu dibuktikan dengan foto-foto mantan Kepala Densus 88 tersebut ketika menyambangi keluarga Yali di Jayawijaya. Dari belasan saudara, Albertus yang lolos masuk Akpol pada tahun 2010 lalu mempunyai fising yang lebih besar dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain.

Seperti yang dituturkan Yali bahwa Albertus merupakan anak ketiganya, “sebanyak 8 anak yang lahir dari 5 istri, Albertus yang terkuat,” tutur Yali sembari tersenyum.

Lantaran sudah lebih dari 40 tahun menjadi kepala suku, sejatinya dia semulanya mencalonkan Albertus sebagai penggantinya. Namun keinginan tersebut harus dia pendam lantaran sang putra mninggalkan Jayawijaya sejak menjalani pendidikan tiga tahun lalu.

Selama di tinggal Albertus setelah lolos seleksi di Polda dan Akpol semarang, Yali tidak lagi memaksakan Albertus untuk menggantikan dirinya setelah meninggal nanti. Kelegowoan dia turut mengubah tradisi konservatis, khususnya pantangan terhadap anak yang merantau jauh. Bahkan, adik Albertus bernama Malik Mabel pada tahun ini diterima di Akpol. Malik kini menjalani pendidikan tingkat pertama.

Dengan bergabungnya Albertus dan Malik di kepolisian, kata Yali, diharapkan mereka dapat terlibat dalam menciptakan keamanan dan ketertiban. Sebagaimana diungkapkan Bekto, program affirmative memberikan kesempatan yang sama kepada putra daerah yang wilayahnya kurang terjangkau oleh akses pemerintah pusat. Kebijakkan ini sekaligus untuk memberi kesempatan terhadap produk local untuk berkiprah lebih tinggi.

Seperti dilontarkan Albertus yang berharap untuk mengikuti jejak Wakil Kapolda Papua Brigjen Pol Paulus Waterpauw. Tidak banyak putra daerah anggota TNI-Polri menjadi orang penting di negeri ini setelah masa Laksamana Muda TNI pur Freddy Numberi (Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan serta Menteri Perhubungan).

“Tentu ada kebanggaan bisa dipercaya memimpin daerah sendirin seperti Wakapolda Papua sekarang” ujar Albertus, Alumnus SMA GPPK Santo Thomas, Wamena itu menuturkan keingginannya berkarir di kepolisian hingga level tertinggi tanpa bayang-bayang statusnya sebagai kandidat ‘putra mahkota’ kepala suku dani. “sebaiknya kakak saja yang kelak meneruskan status kepala suku” imbuhnya.

Sumber : Cenderawasih Pos