![]() |
| Ilustrasi [beritaMU] |
CARIKABAR.COM - Akibat pendudukan bala tentara Jepang di sebagian besar kepulauan Indonesia menyebabkan pemerintahan Belanda di New Guinea kekurangan personel yang terlatih dalam bidang pemerintahan. Untuk memenuhi kekurangan itu maka pada 1944 Residen J.P van Eechoud mendirikan sebuah Sekolah Polisi dan sebuah Sekolah Pamong Praja (bestuurschool) di Hollandia ( sekarang Jayapura). Eechoud sering dijuluki van der Papoea's (Bapak orang Papua). Sekolah telah mendidik 400 orang antara 1944-1949.
Namun nasioanlisme orang Papua muncul dari sekolah itu. Ketika proklamasi kemerdekaan sejumlah terpelajar Papua terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di antaranya Frans Kaisiepo. (lahir di Wardo, Biak, Papua, 10 Oktober 1921
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 ikut mempengaruhi para pemuda terpelajar antara lain Silas Papare, Albert Karubuy dan Marthen Indy. Pada 1946 di Serui, Silas Papare dan sejumlah pengikutnya mendirikan organisasi politik pro-Indonesia yang bernama Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII).
Pada 17 Agustus 1947 dilakukan upacara pengibaran bendera Merah Putih yang dipimpin Silas Papare dan diikuti oleh Johans Ariks, Albert Karubuy, Lodewijk, Barent Mandatjan, Samuel Damianus Kawab dan Joseph Djohari. Upacara itu untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Akibat dari tindakan itu seluruh peserta upacara harus meringkuk dalam tahanan polisi Belanda lebih dari tiga bulan.
Dua Nasionalis Papua lainnya yaitu Frans kaisiepo dan Johans Ariks mengikuti jejak Silas Papare. Johan Ariks kemudian hari mengetahui ada usaha untuk mengintegrasikan wilayah Irian Barat ke dalam wilayah RI. Pada 1945 Frans Kaisiepo berkenalan dengan Sugoro Atmoprasojo ketika mengikuti Kursus Kilat Pamong Praja di Kota Nica Holandia ( Kampung Harapan Jayapura). Dari perkenalan itu ia dan kawan-kawannya mulai tumbuh rasa kebangsaan Indonesia.
Frans Kaisiepo tidak setuju dengan papan nama kursus/sekolah yang diikutinya itu yang bertuliskan PAPUA BESTUUR SCHOOL. Ia memerintahkan kepada Markus Kaisiepo, saudaranya untuk menggantikan papan nama Papua Bestuurschool (Sekolah"Kursus Kilat" Pamong Praja Papua) menjadi Irian Bestuurschool.
Ide kemerdekaan Indonesia berkembang di kalangan para siswa yang berasal dari berbagai daerah dan suku. Para pengikut kursus itu sering mengadakan rapat secara sembunyi-sembunyi yang pada intinya menentang pendudukan Belanda dan ingin bersatu dengan RI. Mereka kemudian membentuk dewan perwakilan di bawah pimpinan Sugoro Admoprasojo dengan anggota, antara lain Frans Kaisiepo, Marthen Indey, dan Silas Papare, G Saweri, SD Kawab dan teman lainnya.
Frans terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Pada konferensi tersebut ia secara tegas menolak rencana penggabungan Papua ke dalam Negara Indonesia Timur. Menurutnya, Papua adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena penolakan Frans, Negara Indonesia Timur akhirnya hanya beranggotakan Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. Ia juga mengganti nama Papua (Nederlands Nieuwe Guinea) menjadi IRIAN yang merupakan singkatan dari Ikut Republik Indonesia Anti Netherlands.
Frans Kaisiepo menggagas berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak, setahun setelah Indonesia merdeka. Frans terus bersikap anti Belanda. Ia menggalang kekuatan di Biak guna menentang kehadiran Belanda di sana. Ia juga menolak dengan tegas pengangkatan dirinya menjadi anggota delegasi Belanda pada Konferensi Meja Bundar (KMB) yang diselenggarakan di Den Haag, Belanda. Sikap keras Frans membuat Belanda kemudian mengasingkannya ke tempat terpencil.
Berlarut-larutnya masalah Irian Barat menyebabkan Indonesia menempuh jalan konfrontasi. Presiden Sukarno mengomandokan Trikora (Tri Komando Rakyat) untuk membebaskan Irian Barat. Frans berperan besar dalam masalah ini dengan memberikan bantuannya agar TNI bisa mendarat di Irian Barat. Frans yang ditunjuk menjadi gubernur Irian Barat juga berperan besar ketika dilaksanakannya Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) pada 1969. Rakyat Irian Barat bersepakat bulat untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Papua antara 1964-1973. Frans Kaisiepo wafat di Irian Jaya, 10 April 1979. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Irian Jaya. Pemerintah Indonesia mengangkat pejuang Irian Jaya itu sebagai Pahlawan Nasional pada 1993. (berbagi sumber)

