Mengenai Saya

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.
[5] [recent] [slider-top-big] [Slider Top]
[15] [true] [slider-top] [Slider Top]
You are here: Home / Mari Kita Bantu Mereka

Mari Kita Bantu Mereka

| Tidak ada komentar
Kisah kehidupan tiga pemuda, yakni Supriyanto, Jaswadi, dan Wiji. Mereka tinggal di Dusun Krajan, Desa Mrayan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo, Jawa Timur.


Saat ini, Supriyanto dan Wiji terbaring lemah di atas ranjang kayu, di dalam rumahnya yang kumuh. Tak hanya kumuh, ruangan rumah yang juga menjadi tempat tidur ini, sangat pengap dan berbau busuk kotoran manusia.
Bau busuk kotoran yang sangat menyengat dan pengapnya udara, membuat yang menciumnya akan berasa hendak muntah. Siapapun yang baru masuk, tak akan kuat bertahan di dalam ruangan berukuran 5 x 6 meter ini, lebih dari 5 menit. Bau busuk ini, tak lain dari sisa kotoran dan kencing Suprianto dan Wiji, pasangan kakak adik yang lumpuh, sejak bayi.
Wiji yang kini berumur 35 tahun, tak bisa bergerak sama sekali, hanya terbaring dengan posisi miring. Tangan dan kakinya tak bisa digerakkan sama sekali. Sesekali, matanya menatap tanah, dan mulutnya menganga. Di sampingnya, di tempat tidur yang sama, ada Suprianto, adiknya yang kini berumur sekitar 25 tahun.
Kondisinya tak jauh berbeda, hanya bisa berbaring dan sesekali menggerakkan kepalanya. Tangan dan kaki, juga tertekuk kaku tak bisa digerakkan sama sekali. Namun kepalanya, masih bisa di dengakknya, sesekali, meski dengan sangat kesulitan. Sesekali dari mulutnya, terdengar suara, yang tidak jelas artinya.
Puluhan tahun, dua pemuda ini terbaring di atas tempat tidur yang sama, di ruangan yang sama. Untuk bergerak memindah posisi badan pun, harus dibantu orang lain. Makan harus disuapi, minum harus dibantu, karena meraih pun tak sanggup. Buang hajat pun, di atas tempat tidur ini, tanpa cebok. Kecuali jika ada yang membantu. Tak lama berselang, saat Suprianto usai buang hajat, Jaswadi, datang kemudian menceboki dan membersihkan kotoran yang menempel diantara kaki adiknya. Setelah bersih, kemudian mengenakan baju dan celana untuk sang adik.
Ini sebagian kecil dari keseharian Jaswadi, yang kini berumur 29 tahun. Jaswadi merupakan saudara tengah di antara keduanya. Urutan kelahirannya, Wiji, Jaswadi, Suprianto. “Ya setiap hari seperti ini,” tuturnya saat ditemui Reog.tv di rumahnya, Rabu (26/3/2014).
Rutinitas merawat dua saudaranya seorang diri ini, dijalani Jaswadi sejak 2 tahun terakhir, setelah Yainem ibunya meninggal. Dulu, saat ibunya masih hidup, dua saudaranya yang cacat sejak bayi ini dirawat bergantian bersama ibunya. Sekaligus, Jaswadi bekerja mencari nafkah.
Namun, sejak sang ibu meninggal, Jaswadi bekerja sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidup, sekaligus menjadi perawat bagi dua sudaranya ini. Padahal, penghasilannya sebagai buruh serabutan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hanya cukup untuk memberi makan, bagi saudaranya ini.
Pagi hari sebelum berangkat kerja, Jaswadi memasak, menyiapkan makan dan menyuapi dua saudaranya ini. Usai menyuapi, berangkat bekerja.
“Berkerja apa saja, Ya mencangkul, menyiram tanaman, menjemur hasil panen atau apa saja. Biasanya di rumah pak lurah,” kata Jaswadi yang hanya lulusan SMP ini.
Tengah hari, saat istirahat makan siang, ia pulang membawa nasi pemberian Pak Lurah. Kembali menyuapi dua saudaranya. Usai menyuapi, balik lagi kerja, hingga sore. Pulang dari bekerja, membawa nasi, kembali untuk diberikan kepada saudaranya.
Terkadang, warga di sekitar rumahnya yang peduli, memberi bantuan makan. Namun terkadang juga tidak makan sama sekali, karena tak ada makanan dan tidak ada yang mempekerjakannya.
Meski demikian, Jaswadi yang lulus SMP ini, tak pernah mengeluh. Dengan sabar, ia tetap merawat dua saudaranya ini, dengan penuh kasih sayang. Ia juga terus bekerja, meskipun hasilnya tidak banyak. Baginya, bekerja dan merawat dua saudaranya ini adalah tanggung jawab yang harus dijalani. ” Ini sudah kewajiban saya, mau diapain lagi, kan gak bisa. Saya tanggung jawab,” tuturnya lirih.
Jaswadi sendiri adalah anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Setu dan Yainem. Kedua orang tuanya itu sudah lama meninggal, sementara kakak perempuan Jaswadi sudah berumah tangga, dan tak lagi mengurus adik-adiknya. Hanya Jaswadi yang mengurus kakak dan adiknya yang lumpuh ini. Dan, meski dalam kondisi miskin dan serba terbatas, ia tetap tegar menjalani hidup
Mohon Informasi ini disebarluaskan agar menjadi perhatian masyarakat sehingga para donatur berkenan membantunya. Selain itu, mohon Pemda Ponorogo menindaklanjuti laporan ini dan segera memberi bantuan.