Ilustrasi guru mengawas Ujian Nasional.
|
TRIBUNMANADO.CO.ID - Usia tak lagi muda, namun bukan berarti semangat belajar kendur. Peserta kesetaraan Paket C pun harus berjibaku dengan soal ujian nasional (UN) untuk bisa mendapatkan sertifikat (ijasah) setara SMA.
Pendis Mamonto sudah 45 tahun. Namun, dia mengaku tak sungkan mengejar ketertinggalan dalam pendidikan formal. Kepala Dusun di Desa Moyongkota, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) ini bertekad mendapatkan sertifikat kesetaraan untuk SMA melalui kejar Paket C.
"Saya mendapat informasi untuk, pendidikan formal aparat desa minimal harus SMA atau sederajat. Jadi atau tidaknya peraturan tersebut diterapkan, lebih baik saya bersiap diri. Saya yakin juga, apa yang saya kerjakan ini tetap bermanfaat," kata Pendis saat waktu istiraht ujian di SMA Islam Baitul Hikmah, Kotamobagu, Senin (14/4).
Kurun setahun terakhir ini, dia belajar di Pusat Kegiatan Belahar Mengajar (PKBM) Handayani Satu. Pendis harus berbagi waktu antara kegiatan pelayanan masyarakat, melakoni pekerjaan sebagai petani dan pelajar. Tiga hari dalam sepekan, yakni Kamis, Jumat dan Sabtu, Pendis menjadi pelajar.
Menghadapi ujian nasional, Pendis mengaku optimis bisa menjalani dengan baik. Dia bercerita, bagaimana dirinya harus belajar bersama anaknya yang juga ikut UN. "Anak saya ikut UN di SMK. Tadi, saya diantar oleh anak saya. Dia, kan, tadi pagi ujiannya, sementara saya mulai pukul 14.00 Wita mulai," katanya.
Peserta paket C tak hanya melulu orang tua. Rika Sitiara (19) mengikuti UN melalui paket C setelah dua tahun lalu putus sekolah. "Saya ingin kembali menalnjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Makanya saya ikut Paket C," kata Rika.
Rika dan Pendis sama-sama mengikuti ujian di SMA Islam Baitul Hikmah. Mereka juga sama-sama belajar di PKBM Handayani Satu. Menurut Kepala SMA Islam Baitul Hikmah yang juga pengurus PKBM Handayani Satu, para peserta kejar Paket C umumya lebih serius dalam belajar.
"Peserta kesetaraan sudah memiliki tujuan pasti. Mereka juga belajar dengan tekun. Berbeda dengan siswa yang mungkin masih tidak fokus dan belum menentukan tujuan belajar mereka," kata Sunarko.
Dia menjelaskan, UN yang dihadapi oleh peserta kesetaraan Paket C dengan SMA/SMK dan MA tak berbeda. "Cuma waktu ujianya saja yang berbeda, kalau mata pelajaranya sama saja. Seperti hari ini, pelajaran yang diujikan Bahasa Indonesia dan Geografi," Sunarko menjelaskan.
Adapun peserta UN yang melaksanakan ujian di SMA Islam Baitul Hikmah Kotamobagu pada Senin kemarin sebanyak 46 orang. "Kalau berdasarkan data sebelumnya, ada 65 yang akan ikut UN. Saya belum tahu alasanya, tapi mereka masih bisa mengikuti UN pada Agustus mendatang," katanya. *
