Siapa yang tidak kenal buya HAMKA, ulama dengan sederet keharuman namanya di Indonesia. Kiprah dakwahnya tak diragukan lagi, dari lawan sampai kawan semua menaruh hormat yang tinggi kepada beliau.
Kali ini secara tak sengaja dipinggiran kota kecil disuatu tempat di pulau Kalimantan. Penulis bertemu dengan salah satu saksi sejarah tentang keindahan pribadi buya HAMKA.
Beliau ini semasa mudanya pernah mengawal buya Hamka ketika berdakwah di bumi borneo.
Adalah Haji Imansyah, sejak muda memilih tinggal di pinggiran kabupaten yang waktu itu masih hutan belantara.Beliau adalah seorang kakek yang dulunya adalah polisi lalu lintas yang kini tinggal di pinggiran kota Martapura Banjar.
Beliau mengisahkan kepada penulis kesan beliau terhadap tokoh pergerakan Islam Buya HAMKA semasa berada di Kalimantan.
Profil
Nama : HM Imansyah
Lahir di : Kandangan 10-12-1928
Alamat : jl sei sipai kelurahan sei sipai kecamatan martapura kota kab.
Banjar kalsel.
Waktu itu beliau bertugas di polresta 1301 Banjarmasin jabatan akhir Kabag Binmas sebagai Kapten Polisi. Mulai mengawal sekitar tahun 1959 sampai dengan 1960. 14 tahun setelah proklamasi kemerdekaan.
Saya : obrolan ringan…..
…….
Assalamu’alaikum wr wb. Kai, saya mewakili website beritamu.co.id ingin melakukan wawancara dengan kai seputar pengalaman kai waktu dulu pernah menjadi pengawal buya Hamka.
Kai : wa’alaikumussalam wr wb. Iya silahkan, setahu kai karena kai sudah tua banyak yang tidak ingat secara pasti.
Saya : kai sejauh mana kenal dengan buya? Apakah ada komunikasi intens dengan beliau?
Jawab : tidak secara langsung hanya melalui media dan beberapa kali pernah mengawal beliau. saya menyesal karena buku buya hamka koleksi saya habis dimakan rayap.
Saya : buku yang paling disuka kai?
Jawab :Hampir semua tulisan beliau saya pernah baca dan yang paling disuka yang berbau sastra roman. Karena pesan agamanya kental dan yang paling enak adalah tasawuf modern.
Kali ini secara tak sengaja dipinggiran kota kecil disuatu tempat di pulau Kalimantan. Penulis bertemu dengan salah satu saksi sejarah tentang keindahan pribadi buya HAMKA.
Beliau ini semasa mudanya pernah mengawal buya Hamka ketika berdakwah di bumi borneo.
Adalah Haji Imansyah, sejak muda memilih tinggal di pinggiran kabupaten yang waktu itu masih hutan belantara.Beliau adalah seorang kakek yang dulunya adalah polisi lalu lintas yang kini tinggal di pinggiran kota Martapura Banjar.
Beliau mengisahkan kepada penulis kesan beliau terhadap tokoh pergerakan Islam Buya HAMKA semasa berada di Kalimantan.
Profil
Nama : HM Imansyah
Lahir di : Kandangan 10-12-1928
Alamat : jl sei sipai kelurahan sei sipai kecamatan martapura kota kab.
Banjar kalsel.
Waktu itu beliau bertugas di polresta 1301 Banjarmasin jabatan akhir Kabag Binmas sebagai Kapten Polisi. Mulai mengawal sekitar tahun 1959 sampai dengan 1960. 14 tahun setelah proklamasi kemerdekaan.
Saya : obrolan ringan…..
…….
Assalamu’alaikum wr wb. Kai, saya mewakili website beritamu.co.id ingin melakukan wawancara dengan kai seputar pengalaman kai waktu dulu pernah menjadi pengawal buya Hamka.
Kai : wa’alaikumussalam wr wb. Iya silahkan, setahu kai karena kai sudah tua banyak yang tidak ingat secara pasti.
Saya : kai sejauh mana kenal dengan buya? Apakah ada komunikasi intens dengan beliau?
Jawab : tidak secara langsung hanya melalui media dan beberapa kali pernah mengawal beliau. saya menyesal karena buku buya hamka koleksi saya habis dimakan rayap.
Saya : buku yang paling disuka kai?
Jawab :Hampir semua tulisan beliau saya pernah baca dan yang paling disuka yang berbau sastra roman. Karena pesan agamanya kental dan yang paling enak adalah tasawuf modern.
Saya : buya waktu itu selain ke Banjarmasin apakah juga ke provinsi lain di Kalimantan seperti ke kalteng?
Jawab: Paling sering dakwahnya di Banjarmasin dan ujung pandang..waktu itu kalteng belum ada.
Saya : bentuk kawalan kai waktu itu seperti apa?
Jawab : tugasnya waktu itu mengawal dari bandara menuju kota Banjarmasin atau tempat dimana buya diminta berdakwah.
Saya : berapa kali mengawalnya?
Jawab : dua kali ngawal langsung Buya.ngawal pake sepeda motor besar.
Saya: selama mengawal, apa yang paling berkesan tentang Buya?
Jawab : waktu di Masjid Jami’ Sungai Jingah banjarmasin sembahyang sholat subuh ada dialog antara buya dengan jamaah:
1. Buya: disini pake qunut ga?
2. Jamaah: pake
Lalu ketika sholat buya menggunakan doa qunut dengan lantunan tilawah yang bagus dan ceramahnya ga pake teks. Setelah selesai menjadi imam, Buya duduk berdiam sementara jamaah subuh berdzikir jamaah.
Saya : ada kesan lain kyai? Misalnya dari pakaian ataupun tindak tanduknya?
Jawab: buya sangat simpatik orangnya karena walaupun tokoh muhammadiyah pribadinya santun. pakaiannya buya itu selalu bersarung, kemeja polos, tidak pake surban tapi peci hitam. Dan dipakai sejak turun pesawat sampai acara dakwah selesai.
Saya : apakah tidak ada penolakan dari kaum tua di bumi banjar kai?
Jawab : Tokoh seperti buya tak ada lagi di masa sekarang. Karena beliau itu diterima segala kalangan. Waktu dulu NU (kaum tua ) dan Muhammadiyah ( kaum muda ). Kaum muda dan tua di banjar itu “rasuk” artinya sesuai dan semua golongan bisa menerima. Padahal tahun segitu gara-gara usholli suami istri bisa cerai. Sekarang saja cucu kai sekolah dan amalannya ikut muhammadiyah padahal kai nu. Tapi ga masalah…hahahaha (tertawa lepas ) kalau zaman dulu bisa dianggap bukan cucu lagi.
Saya : bagaimana sikap buya dengan pemerintah waktu itu?
Jawab: sejak zaman Soekarno buya bukan ulama penjilat pemerintah. Dia tegas dan sempat masuk sel karena ketegasan beliau. Zaman Soeharto ( cmiiw) Waktu itu ada judi yang dilegalkan pemerintah beliau tegas menolak. Sementara ada ulama-kyai lain yang membolehkan dengan berbagai alasan. Beliau tegas menolak. Judi haram.
Saya : terimakasih kai-lah. Mohon maaf sebelumnya sudah merepotkan waaktu kai.
Jawab: iya sama-sama semoga bisa bermanfaat.
Selanjutnya disambung dengan bincang ringan dan melihat koleksi foto lama kai ketika masih bertugas. [beritamu.co.id]


