Mengenai Saya

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.
[5] [recent] [slider-top-big] [Slider Top]
[15] [true] [slider-top] [Slider Top]
You are here: Home / KARTINI MASA KINI

KARTINI MASA KINI

| Tidak ada komentar



Tiada awan dilangit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” Kutipan ini berasal dari pejuang emansipasi wanita R. A. Kartini. Kutipan ini menggambarkan perjuangan para perempuan-perempuan hebat yang tampil di Kick Andy kali ini. Mereka bisa disebut sebagai Kartini Masa Kini.

Salah satunya adalah Nani Zulminati yang hidup sebagai single parent. Bukan perkara mudah bagi seorang perempuan apalagi dengan statusnya sebagai janda. Pandangan miring dan stigma negatif kerap melekat pada diri mereka. Ia kemudian bekerja keras mengembalikan citra positif para single parent dengan mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang di sebut Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA).

Ditangannya PEKKA mampu mengkoordinir sekitar 25.000 rumah tangga di 19 provinsi di seluruh Indonesia. Tak hanya perempuan berstatus janda miskin yang bisa bergabung ke PEKKA. Tetapi juga mereka yang mengambil peran dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Melalui organisasi ini, Nani mengembangkan berbagai program komprehensif dengan pendekatan pemberdayaan. Seperti pemberdayaan ekonomi para perempuan kepala keluarga hingga perajutan kembali hubungan sosial diantara para perempuan korban konflik.

Di kecamatan ujung tanah Makassar banyak nelayan yang hidup dibawah garis kemiskinan. Hal ini menggugah seorang wanita bernama Nuraeni untuk berbuat sesuatu bagi lingkungannya melalui pemberdayaan istri para nelayan. Nuraeni yang akrap disapa Eni ini dipaksa mandiri setelah suaminya meninggal pada tahun 2004. Ia pun kemudian mulai belajar untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya dengan berjualan abon ikan tuna, bandeng cabut tulang, otak-otak dan hasil olahan ikan lainnya.

Ketrampilan yang dimilikinya kemudian ia tularkan kepada para istri nelayan. Sebagai perempuan pertama dengan pendidikan tinggi didaerahnya. Ia kerap dicurigai oleh para tengkulak dan dituduh ingin menguasai para nelayan. Namun ia tidak putus asa, ia melakukan pendekatan dan mendatangani langsung para istri nelayan satu persatu hingga terbentuknya Koperasi Fatimah Az-Zahra.

Kesabaran dan kegigihan Eni membuahkan hasil, kehidupan keluarga nelayan berubah. Meski sibuk, Eni tetap menjadikan anak-anaknya sebagai prioritas. “Perempuan jangan berpangku tangan, keluarga adalah harta, jaga mereka,” ujar Eni.
Maizidah Salas atau akrap yang disapa Saras adalah seorang wanita yang tangguh. Ia dikenal sebagai pejuang para buruh khususnya para buruh yang bekerja sebagai TKI diluar negeri atau buruh migran. Menjadi seorang aktivis hak-hak buruh awalnya bukan menjadi keinginannya. Wanita yang bermimipi menjadi dokter ini harus menerima kenyataan bahwa pernikahan muda yang dijalaninya tak berjalan semestinya. Hingga ia akhirnya memutuskan untuk menjadi TKI di Korea Selatan dan Taiwan.

Selama menjadi TKI, ia pernah merasakan dideportasi dan hidup dibalik jeruji besi. Perjuangan Saras sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Saras pun masih berusaha aktif mensosialisasikan hak-hak buruh di kampungnya melalui organisasi buruh migran yang dibentuknya di Wonosobo.

Bentuk pengabdian sosial lain yang dilakukan Saras adalah mendirikan koperasi simpan pinjam bagi keluarga mantan buruh migran. Selain itu ia juga mendirikan PAUD bagi anak-anak keluarga buruh migran. Saat ini Saras masih memiliki mimpi untuk menambah sekolah PAUD bagi semua yang membutuhkan. Ia juga terus berusaha mensosialisasikan hak-hak kaum buruh migran serta terus berjuang memperbaiki kekacauan sistem buruh migran di Indonesia. Karena dedikasinya dirinya pernah dianugrahi Indonesia Migran Award oleh Universitas Indonesia dan Kementrian Kesejahteraan Rakyat.